Senin, 03 November 2008.
http://www.posmetropadang.com/content/view/8407/124/

Sidang tertinggi Limbago Adat Ninik Mamak Nan 24 beserta dubalang pegawai Nagari Taram Nan Tujuah, Kecamatan Harau, telah melahirkan suatu keputusan atau kesepakatan ninik mamak dari berbagai suku, masing-masing suku Melayu, Bodi, Pitopang Godang, Pitopang Loweh, Sumabur Payobada, Sumpadang Balai Janggo dan Suku Pitopang, Kamis (30/10) di Balai Koto Taram.

Dari usulan yang dikemukakan dalam sidang tertinggi Limbago Adat Nagari Taram Nan Tujuah:

Pertama, setiap hari Jumat yang dimulai Jumat 31 Oktober 2008 kepada anak Nagari Taram Nan Tujuah diwajibkan berpakaian muslim dan muslimah.
Hal ini diusul Dt Bagindo Malano Nan Putiah dari suku Melayu.

Kedua, diwajibkan berpakaian muslimin dan muslimah bagai anak Nagari Taram yang akan berurusan ke Kantor Walinagari Taram dan instansi lainnya.
Setiap petang Kamis, juga diwajibkan membaca Al Quran yang diusulkan Dt Mangkuto Nan Gamuak dari suku Piliang Godang.
Selain itu Dt Rajo Mahudun Nan Gamuak dari suku Piliang Loweh berpendapat, setiap petang Kamis malam Jumat TV di kedai/warung wajib dimatikan mulai jam 18.00 WIB sampai dengan 20.00 WIB.

Ketiga, seluruh anak nagari dilarang melakukan perbuatan atau kegiatan yang bersifat judi, seperti yang disampaikan Dt Marajo Nan Batuah dari suku Sumabur Payobada.

Lalu, melarang anak kamanakan atau anak nagari terlibat, baik sebagai pemakai maupun pengedar narkoba.
Hal ini diusulkan Dt Paduko Simarajo Nan Panjang dari suku Sumpadang Balai Janggo.
Dan untuk memelihara kebersihan dan ketertiban serta keindahan Nagari Taram, disepakati setiap Jumat --dimulai pada Jumat depan (7/11) melakukan Goro bersama.
Ini merupakan usulan yang dikemukakan Dt Damuanso Nan Putiah dari suku Pitopang.

Dan setiap pengendara sepeda motor serta mobil yang melewati Nagari Taram diwajibkan mengatur kecepatan maksimal 40 km/jam.
Usulan yang disampaikan masing-masing nanik mamak dan dubalang pegawai dari berbagai suku yang mengikuti Sidang Tertinggi Limbago Adat itu , telah dapat melahirkan kesepakatan untuk dilaksanakan dan akan dijadikan sebagai Peraturan Nagari.

"Dengan adanya suatu kesepakatan yang telah dilahirkan itu, berarti Ninik Mamak Nan 24 beserta dubalang pegawai telah dapat mengatakan, nan diangan alah dapek, nan dicinto alah tibo," ujar Dt Indo Marajo Nan Panjang yang memimpin sidang tertinggi Limbago Adat Nagari Taram yang juga sebagai ketua KAN kepada POSMETRO, Minggu (2/11) di Payokumbuah.